Jumat, 19 Februari 2010

PENTINGNYA INOVASI DALAM PENDIDIKAN

Categories:

Penulis : Nurdelima Waruwu


Abstrak

Didaktika Islamika - One of the global phenomena that can not be stop is change. Since everyone can’t be free from change, so we have to take actions strategically to face it in order to be exist and grow. One of the steps is doing an innovation that is a planned change towards the objective and performance. This innovation has been spread very fast in all professional sectors and organization, include education sector. The main purpose of innovation in education is first, improving the quality of education and the capacity of Indonesian human resources to fight in global competition; second, solving the problems in education, whether using a conventional or innovative ways. The challenges of globalization and information era must be taken the advantage as an opportunity to improve the learning base on communication and information technology. We have to acknowledge that the advantage on learning process can be developed through education innovation with new paradigm by empowering the human resources and communication and information technology.

Kata Kunci: inovasi pendidikan, pemberdayaan SDM, teknologi informasi dan komunikasi.

Perubahan dan Inovasi

Disadari atau tidak, perubahan dapat terjadi begitu saja pada diri kita maupun di sekeliling kita. Perubahan itu erat kaitannya dengan dinamika lingkungan yang dinamis, yang dapat berubah kapan saja, tanpa memandang waktu maupun tempat. Perubahan merupakan fenomena global yang tidak bisa dibendung, sehingga terkadang mengejutkan kita semua, tidak terkecuali organisasi besar sekalipun, baik nirlaba maupun laba. Itulah perubahan, betapa dahsyatnya dia mengguling dan menggulung siapa saja yang tidak siap menghadapinya, tanpa pengecualian. Perubahan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari, karena perubahan akan selalu ada dan bergulir terus menerus. Bahkan ada yang mengatakannya sebagai sesuatu yang abadi.

Di antara para pakar memberikan terminologi yang berbeda-beda tentang perubahan. Menurut Robbins (1998: 629), “Perubahan adalah membuat sesuatu menjadi lain”. Sedangkan menurut Wibowo (2006: 1), “Perubahan adalah transformasi dari keadaan sekarang menuju keadaan yang diharapkan di masa yang akan datang, suatu keadaan yang lebih baik”. Berdasarkan pengertian ini terkandung makna bahwa perubahan yang diharapkan terjadi tentu saja perubahan yang dapat menjadikan organisasi lebih baik dibanding waktu-waktu sebelumnya. Hal ini seperti dinyatakan oleh Robbins (1998: 629) bahwa “Perubahan terencana adalah perubahan yang disengaja dan berorientasi pada tujuan”.

Perubahan organisasi adalah “usaha yang direncanakan oleh manajemen untuk menghasilkan prestasi keseluruhan individu, kelompok dan organisasi dengan mengubah struktur, perilaku dan proses”(Gibson, et al., 1997: 18). Perubahan seperti itu bukanlah sekedar berubah saja, tetapi perubahan yang disertai dengan pembaruan dalam berbagai hal berdasarkan perencanaan yang telah ditetapkan sebelumnya, dan hal inilah yang sering dimaknai sebagai pembaruan atau inovasi. Seperti dikatakan oleh White (1991: 211) bahwa, “Inovasi itu lebih dari sekedar perubahan, walaupun semua inovasi melibatkan perubahan”.

Sementara itu, Nicholas (1993: 4) memberikan perbedaan antara inovasi dengan perubahan: “Perubahan mengacu pada kelangsungan penilaian, penafsiran dan pengharapan kembali dalam perbaikan pelaksanaan pendidikan yang ada, yang dianggap sebagai bagian aktivitas yang biasa. Sedangkan inovasi adalah mengacu kepada ide, objek atau praktik sesuatu yang baru oleh seseorang atau sekelompok orang yang bermaksud untuk memperbaiki tujuan yang diharapkan”.
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud inovasi adalah “pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru; penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat)” (Depdikbud, 1990: 333).

Dari semua pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa di dalam inovasi ada kegiatan menciptakan sesuatu hal baru yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja oganisasi. Menurut Timpe (2002: 421), “Penciptaan sesuatu hal baru di sini erat kaitannya dengan teknologi baru, produk-produk baru maupun metode yang baru, sehingga ketika menyebut istilah inovasi membuat sebagian besar orang berpikir pertama-tama tentang teknologi, produk-produk baru, dan metode-metode baru untuk membuatnya”.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, agar setiap organisasi dapat sustainable dalam lingkungan dinamis yang selalu berubah, maka perlu menumbuhkan dan melakukan inovasi secara terus-menerus yang dikenal dengan inovasi tiada henti. Inovasi yang tiada henti itu maksudnya adalah inovasi yang dilakukan secara terus menerus dalam berbagai hal dan selalu menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Siapakah pihak yang berperan melakukan inovasi dalam suatu organisasi? Tidak lain adalah setiap orang atau individu yang ada di dalam organisasi tersebut. Prestasi organisasi tergantung dari prestasi individu. Sedangkan prestasi individu merupakan bagian dari prestasi kelompok yang pada gilirannya merupakan prestasi organisasi.

Karena itu semua unsur di dalam organisasi, baik pimpinan maupun anggota harus mempunyai niat dan perhatian serta konsistensi yang terintegrasi dan berkesinambungan. Hal ini penting ditekankan agar semua pihak yang berperan serta dalam proses inovasi, mulai dari pimpinan tertinggi hingga anggota terendah pun mengetahui tujuannya, sasarannya dan perencanaan maupun strategi yang dipergunakan, sehingga hasilnya dapat memenuhi harapan organisasi.

Kini, perkembangan zaman sudah menjadikan dunia ini menjadi suatu kesatuan (borderless) yang tidak lagi mengenal batas-batas negara dan teritori. Inilah konsekuensi dari era globalisasi dan revolusi informasi, di mana telah mengakibatkan terjadinya persaingan secara bebas dalam berbagai hal, termasuk dalam bidang ketenagakerjaan. Tidak ada pengecualian dalam persaingan ini, semua sektor sudah dirambah oleh globalisasi, semuanya bersaing dan berlomba-lomba meraih kesempatan dalam sistem mekanisme pasar global. Maksudnya bahwa dalam bidang ketenagakerjaan akan tunduk pada mekanisme pasar dengan persyaratan global yang sepenuhnya ditentukan oleh kualitas tenaga kerja itu sendiri. Globalisasi menuntut tersedianya sumber daya manusia yang mampu bersaing secara global.

Inilah tantangan bagi organisasi yang bergerak di bidang pendidikan. Bagaimana organisasi pendidikan mengantisipasi perubahan tersebut? Apa langkah-langkah yang perlu dilakukan sehingga penyelenggara pendidikan kita di Indonesia ini mampu menempatkan kualitas sumber daya manusia kita pada level yang patut diperhitungkan di kancah global? Hal ini merupakan tugas yang tidak ringan, terutama bagi penyelenggara kegiatan pendidikan. Di sini dibutuhkan manajemen pendidikan yang baik (well manage) dan strategi pelaksanaan inovasi agar organisasi pendidikan mampu menghasilkan SDM yang berkualitas.

Strategi Pelaksanaan Inovasi

Dalam melakukan strategi inovasi, Kennedy (1991: 163) mengemukakan bahwa, “terdapat tiga jenis strategi inovasi, yaitu: power coercive (strategi pemaksaan), rational empirical (empirik rasional), dan normative re-educative (pendidikan yang berulang secara normatif)”.

Pertama, adalah strategi pemaksaaan berdasarkan kekuasaan. Pola ini dapat dikatakan sebagai suatu pola inovasi yang lebih bersifat top down. Strategi ini seperti komando karena cenderung bersifat perintah dan memaksakan kehendak, ide dan pikiran sepihak tanpa menghiraukan kondisi dan keadaan serta situasi yang sebenarnya, di mana inovasi itu akan dilaksanakan. Kekuasaan memegang peranan yang sangat kuat pengaruhnya dalam menerapkan ide-ide baru dan perubahan sesuai dengan kehendak dan pikiran-pikiran dari pencipta inovasinya. Pihak pelaksana yang justru sebagai objek utama dari inovasi itu sendiri malahan tidak dilibatkan sama sekali, baik dalam proses perencanaan maupun pelaksanaannya. Para inovator hanya menganggap pelaksana sebagai objek semata dan bukan sebagai subjek, sehingga tidak harus diperhatikan dan dilibatkan secara aktif dalam proses perencanaan dan pengimplementasiannya.

Kedua, adalah empirik rasional. Dalam strategi ini dikenal adanya asumsi dasar bahwa manusia mampu menggunakan pikiran logisnya atau akalnya sehingga manusia mampu untuk bertindak secara rasional. Dalam strategi ini inovator bertugas mendemonstrasikan inovasinya dengan menggunakan metode yang terbaik dan valid untuk memberikan manfaat bagi penggunanya.

Aplikasi dari strategi ini adalah sebagaimana kita pernah lihat langsung di sekolah-sekolah, di mana para guru menciptakan strategi atau metode mengajar yang menurutnya sesuai dengan akal yang sehat, berkaitan dengan situasi dan kondisi bukan berdasarkan pengalaman guru tersebut. Di berbagai bidang, para pencipta inovasi melakukan perubahan dan inovasi untuk bidang yang ditekuninya berdasarkan pemikiran, ide, dan pengalaman dalam bidangnya itu, yang telah digeluti sekian lama, bahkan bertahun-tahun. Inovasi yang demikian memberi dampak yang lebih baik dibanding model inovasi yang pertama, karena sesuai dengan kondisi nyata di tempat pelaksanaan inovasi tersebut.

Ketiga, normatif reedukatif (pendidikan yang berulang) adalah suatu strategi inovasi yang didasarkan pada pemikiran para ahli pendidikan yang menekankan bagaimana klien memahami permasalahan pembaruan, seperti perubahan sikap, skill, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan manusia.

Dalam pendidikan, bila sebuah strategi menekankan pada pemahaman pelaksana dan penerima inovasi, maka pelaksanaan inovasi dapat dilakukan berulang kali. Misalnya dalam pelaksanaan perbaikan sistem belajar mengajar di sekolah, para guru sebagai pelaksana inovasi berulang kali melaksanakan perubahan-perubahan itu sesuai dengan kaidah-kaidah pendidikan. Kecenderungan pelaksanaan model yang demikian agaknya lebih menekankan pada proses mendidik dibandingkan dengan hasil dari perubahan itu sendiri. Pendidikan yang dilaksanakan lebih mendapat porsi yang dominan sesuai dengan tujuan menurut pikiran dan rasionalitas yang dilakukan berkali-kali, agar semua tujuan yang sesuai dengan pikiran dan kehendak pencipta dan pelaksanaanya dapat tercapai.

Dalam bidang pendidikan, banyak usaha yang dilakukan untuk kegiatan yang sifatnya pembaruan atau inovasi pendidikan. Inovasi yang terjadi dalam bidang pendidikan tersebut, antara lain: dalam hal manajemen pendidikan, metode pengajaran, media, sumber belajar, pelatihan guru, implementasi kurikulum, dan sebagainya.

Model dan Contoh Kegiatan Inovasi Pendidikan

Ada dua model inovasi pendidikan, yaitu model “top down innovation” dan model “bottom up innovation”. Model pertama adalah suatu inovasi yang datang dari atas atau yang diciptakan oleh pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) yang disponsori oleh lembaga-lembaga asing. Inovasi ini sengaja diciptakan oleh oleh Depdiknas selaku inovator dan regulator di bidang pendidikan sebagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, ataupun sebagai usaha untuk meningkatkan efisiensi, dan sebagainya.

Kedua, adalah inovasi model “bottom up innovation”, yaitu model inovasi yang diciptakan berdasarkan ide, kreasi, dan inisiatif sendiri oleh suatu lembaga pendidikan seperti sekolah, universitas, guru, dosen, dan sebagainya. Model bottom up innovation ini lebih banyak dilakukan di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi swasta dibanding sekolah atau perguruan tinggi negeri, karena sistem pengambilan keputusan yang sentralistis. Misalnya, suatu sekolah melakukan inovasi tentang efektifitas pembelajaran dengan menggunakan media atau alat transformasi pelajaran seperti komputer dan infocus dalam setiap kelas. Dalam hal ini kewenangan atau otoritas sekolah yang bersangkutan lebih menonjol dan dapat mengambil keputusan sendiri sepanjang tidak melanggar kaidah-kaidah normatif.

Berikut ini adalah beberapa contoh inovasi pendidikan yang telah dilakukan oleh Depdiknas selama beberapa dekade terakhir ini, yaitu: Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP), Sistem Pengajaran Modul, Guru Pamong, Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), dan sebagainya.
Contoh kegiatan inovasi pendidikan tersebut dapat disampaikan sebagai berikut:


1. Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP)

Proyek ini bertujuan untuk mencoba bentuk sistem persekolahan komprehensif dengan nama “Sekolah Pembangunan”. Kerangka sistem itu secara umum digariskan dalam Surat Keputusan Menteri P dan K Nomor 0172 Tahun 1971. Dalam Surat Keputusan tersebut, terdapat beberapa pokok pikiran sebagai berikut (Hasbullah, 2005: 205):

a. Adanya integrasi antara sekolah dan masyarakat serta pembangunan.
b. Sekolah menghasilkan tenaga terdidik sehingga dapat merupakan tenaga kerja produktif.
c. Sekolah menghasilkan manusia terdidik dengan pengertian kesadaran ekologi, baik lingkungan sosial, fisik, maupun biologis.
d. Sekolah menyelenggarakan pendidikan yang menyenangkan, merangsang sesuai dengan tuntutan zaman untuk pendidikan watak, pengetahuan, kecerdasan, keterampilan, kemampuan berkomunikasi, dan kesadaran ekologi.
e. Sekolah menciptakan keseimbangan fisik emosional intelektual, kultural, dan spiritual, serta keseluruahn pembangunan masyarakat.
f. Sekolah memberi sumbangan bagi ketahanan nasional dan ikut serta dalam pembangunan masyarakat.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri P dan K 041 Tahun 1974 tentang Landasan, Tujuan, Strategi, Proses, dan Tata Kerja Pembaruan Pendidikan, ada delapan PPSP yang diserahi tugas percobaan ini, yaitu sekolah dasar dan sekolah menengah percobaan pada masing-masing IKIP di Padang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, dan Makasar.

Melalui delapan PPSP ini akan disusun suatu sistem pendidikan dasar dan menengah yang:

a. Efektif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan individu yang diwujudkan melalui program-program pendidikan yang sesuai.
b. Merupakan dasar bagi pendidikan seumur hidup.
c. Efisiensi dan realistis, sesuai dengan tingkat kemampuan pembiayaan oleh keluarga masyarakat dan pemerintah.

2. Pengajaran dengan Sistem Modul

Sistem pengajaran ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas belajar mengajar di sekolah, terutama yang berkaitan dengan penggunaan waktu, dana, fasilitas, dan tenaga secara tepat guna dalam mencapai tujuan secara optimal.

Dalam konteks pengajaran modul ini, peranan guru dan murid dalam suatu sistem pengajaran dapat digambarkan sebagai berikut:

a. Bagian-bagian modul
• Program yang disusun untuk murid meliputi Lembaran Kegiatan Siswa (LKS), Lembaran Kerja, Kunci Lembaran Kerja, Lembaran Test, Lembaran Jawaban, dan Kunci Jawaban.
• Pedoman yang disusun untuk para pengajar yang disebut “Pedoman Guru” berisi penjelasan mengenai topik yang dibahas (tujuan dan materi). Jenis-jenis kegiatan belajar dan alat-alat yang digunakan, serta petunjuk tentang cara menggunakan alat pelajara dan evaluasi.
b. Murid dan Peranannya dalam Pengajaran Sistem Modul
Para siswa mendapatkan kesempatan lebih banyak untuk belajar sendiri, membaca uraian dan petunjuk di dalam lembaran kegiatan siswa, menjawab pertanyaan-pertanyaan atau melaksanakan tugas-tugas yang harus diselesaikan, dan mengecek apakah penyelesaian setiap tugas benar atau tidak.
c. Peranan Guru dalam Sistem Pengajaran Modul
Dalam sistem pengajaran modul ini tugas utama guru adalah mengorganisasi dan mengatur proses belajar, antara lain:
• Menyiapkan situasi belajar yang sesuai.
• Membantu para siswa yang mengalami kesulitan di dalam memahami isi modul atau melaksanakan tugas.
• Melaksanakan penilaian terhadap setiap siswa.

3. Proyek Pamong

Pamong merupakan singkatan dari pendidikan anak oleh masyarakat, orang tua dan guru. Tujuan proyek pamong:

a. Membantu anak-anak yang tidak dapat sepenuhnya mengikuti pendidikan sekolah atau membantu siswa yang drop out.
b. Membantu anak-anak yang tidak mau terlibat oleh tempat dan waktu dalam belajar sehingga belajar dapat dilakukan sambil menggembalakan ternak, waktu istirahat, dan sebagainya.
c. Mengurangi penggunaan tenaga guru sehingga rasio guru terhadap murid dapat menjadi 1: 20, padahal pada sekolah dasar biasa 1: 40 atau maksimal 1: 50.
d. Menampung sebanyak mungkin siswa, karena ditingkatkannya pemerataan kesempatan belajar dan biaya rendah (Idris, 1991: 50).

4. Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)

Pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) menuntut keterlibatan mental siswa terhadap bahan yang dipelajari. CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Pendekatan CBSA menuntut keterlibatan mental vang tinggi, sehingga terjadi proses-proses mental yang berhubungan dengan aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomolorik. Melalui proses kognitif, pembelajar akan memiliki penguasaan konsep dan prinsip.

Siswa pada hakikatnya memiliki potensi atau kemampuan yang belum terbentuk secara jelas, maka kewajiban gurulah untuk merangsang agar mereka mampu menampilkan potensi itu. Para guru dapat menumbuhkan keterampilan-keterampilan pada siswa sesuai dengan taraf perkembangannya, sehingga mereka memperoleh konsep. Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan memproses perolehan, siswa akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Proses belajar-mengajar seperti inilah yang dapat menciptakan siswa belajar aktif (Hendra, 2009).

Masalah-masalah yang Menyebabkan Pentingnya Inovasi Pendidikan

Inovasi pendidikan ialah suatu perubahan yang baru dan bersifat kualitatif, berbeda dari hal yang ada sebelumnya serta sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan dalam rangka pencapaian tujuan tertentu dalam pendidikan, (Suryosubroto, 1990: 127).

Tujuan utama inovasi pendidikan adalah berusaha meningkatkan kualitas pendidikan dan kemampuan, yakni kemampuan dari sumber-sumber tenaga, uang, sarana dan prasarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi. Jadi, keseluruhan sistem perlu ditingkatkan agar semua tujuan yang telah direncanakan dapat dicapai dengan sebaik-baiknya.

Tujuan yang direncanakan mengharuskan adanya perincian yang jelas tentang sasaran dan hasil-hasil yang ingin dicapai, yang sedapat mungkin bisa diukur untuk mengetahui perbedaan antara keadaan sesudah dan sebelum inovasi diadakan. Pembaruan pendidikan sebagai tanggapan baru terhadap masalah-masalah pendidikan.

Majunya bidang teknologi dan komunikasi sekarang ini dapat memberikan pengaruh positif terhadap kemajuan di bidang lain, termasuk dalam dunia pendidikan. Tugas pembaruan pendidikan yang terutama adalah memecahkan masalah-masalah yang dijumpai dalam dunia pendidikan, baik dengan cara yang konvensional maupun dengan cara yang inovatif. Inovasi atau pembaruan pendidikan juga merupakan suatu tanggapan baru terhadap masalah kependidikan yang nyata-nyata dihadapi. Titik pangkal pembaruan pendidikan adalah masalah pendidikan yang aktual, yang secara sistematis akan dipecahkan dengan cara inovatif.

Sejalan dengan uraian di atas, maka dalam hal organisasi pendidikan di Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan SDM yang berkualitas, tentunya harus melakukan langkah-langkah strategis yang inovatif kalau tidak mau dikatakan ketinggalan.

Terdapat beberapa masalah yang menyebabkan pentingnya melakukan inovasi pendidikan di Indonesia, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Perkembagan ilmu pengetahuan dan teknologi

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan telah mengakibatkan kemajuan di bidang teknologi. Kemudian terpancar ke segala hal yang mempengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan kebudayaan bangsa Indonesia. Diakui bahwa sistem pendidikan yang dimiliki dan dilaksanakan di Indonesia selama ini masih belum mampu mengikuti dan mengendalikan kemajuan-kemajuan tersebut, sehingga dunia pendidikan belum dapat menghasilkan tenaga-tenaga pembangunan yang terampil, kreatif, dan aktif, yang sesuai dengan tuntutan dan keinginan masyarakat luas.

Berkembangnya ilmu pengetahuan modern menghendaki dasar-dasar pendidikan yang kokoh dan penguasaan kemampuan yang terus menerus. Oleh karena itu, kecepatan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dengan cakupannya yang sangat luas serta dibarengi oleh perubahan-perubahan sosial dan ekonomi, telah mengubah secara mendasar kondisi-kondisi pekerjaan.

Suatu proses pendidikan yang benar-benar inovatif harus mempersiapkan anak didik untuk menghadapi perubahan serta memberikan kemampuan kepada mereka untuk dapat menjawab tantangan-tantangan lingkungan secara lebih efektif.

Jelas sekali bahwa keadaan demikian akan memengaruhi pendidikan. Pendidikan harus menghadapi restrukturisasi lapangan kerja di masa yang akan datang, yang akan memberikan prioritas yang lebih besar kepada lulusan pendidikan tinggi yang berkualitas, dan selanjutnya akan dibutuhkan latihan kembali dari tenaga-tenaga kerja yang ada.

2. Demografi, Sosial, dan Kultural

Laju pertumbuhan penduduk yang cukup pesat tentunya menuntut adanya perubahan, sekaligus bertambahnya keinginan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang secara kumulatif menuntut tersedianya sarana pendidikan yang memadai.

Jumlah penduduk kita yang semakin bertambah belum dapat dijamah secara merata oleh kegiatan atau pelayanan pendidikan. Kenyataan tersebut menyebabkan daya tampung, ruang dan fasilitas pendidikan sangat tidak seimbang. Hal inilah yang menyebabkan sulitnya menentukan bagaimana relevansi pendidikan dengan dunia kerja sebagai akibat tidak seimbangnya antara out put lembaga pendidikan dengan kesempatan yang tersedia.

Faktor-faktor sosio kultural sangat erat terkait pada faktor demografi, ekonomi, teknologi, dan ekologi, yang sangat khas untuk masing-masing masyarakat. Faktor-faktor tersebut berinteraksi erat dengan pendidikan dan dipengaruhi pula oleh pendidikan.

Sementara itu, pendidikan juga berfungsi untuk meneruskan serta mengembangkan faktor-faktor di atas. Contoh faktor tersebut adalah sistem nilai dan berbagai corak adat dan kelakuan. Faktor lain yang penting adalah untuk meningkatkan kesadaran identifikasi kultural dan etnik, linguistik, dan kelompok-kelompok agama yang terjadi di seluruh dunia. Bagaimana pun juga hal-hal tersebut akan merupakan suatu tantangan dan tugas bidang pendidikan untuk memberikan tanggapan terhadap fenomena tersebut.

3. Kebutuhan Masyarakat akan Pendidikan yang Lebih Baik

Dewasa ini masyarakat semakin jeli dan selektif memilih lembaga pendidikan yang lebih baik, seolah tidak peduli atas harganya atau biaya yang dikeluarkan untuk itu. Upaya inovasi pendidikan berkaitan erat dengan adanya berbagai tantangan dan persoalan yang dihadapi oleh dunia pendidikan dewasa ini, yang salah satu penyebabnya adalah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Kemajuan iptek yang terjadi senantiasa mempengaruhi aspirasi masyarakat. Pada umumnya mereka mendambakan pendidikan yang lebih baik, padahal di satu sisi kesempatan untuk itu sangat terbatas sehingga terjadilah kompetisi atau persaingan yang sangat ketat. Berkenaan dengan inilah pula sekarang bermunculan sekolah-sekolah favorit, plus, bahkan unggulan.

4. Kurang Sesuainya antara Pendidikan dengan Kebutuhan Dunia Usaha

Tantangan besar bagi organisasi pendidikan adalah kemampuannya menyediakan kebutuhan tenaga kerja bagi dunia usaha. Pada zaman sekarang ini, masyarakat menuntut adanya lembaga pendidikan yang benar-benar mampu diharapkan, terutama yang siap pakai dengan dibekali keahlian atau keterampilan (skill) yang diperlukan dunia usaha.

Pada umumnya, kurang sesuainya materi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat telah diatasi dengan menyusun kurikulum baru. Oleh karena itu perkembangannya di Indonesia kita ketahui telah mengalami beberapa kali perubahan kurikulum. Hal ini dilakukan dalam upaya mengatasi masalah relevansi. Dengan kurikulum baru inilah anak-anak dibina kepribadian melalui pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang sesuai dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. Aspek keterampilan merupakan unsur kurikulum baru yang selalu mendapatkan perhatian khusus dan prioritas utama.

5. Kurangnya Sarana dan Prasarana Pendidikan

Untuk menjamin terwujudnya kegiatan belajar mengajar di sekolah diperlukan adanya sarana dan prasarana yang memadai. Sarana dan prasarana yang memadai tersebut harus memenuhi ketentuan minimum yang ditetapkan dalam standar sarana dan prasarana sebagaimana telah diatur dalam peraturan pemerintah. Namun pada kenyataannya masih banyak sekolah-sekolah yang tidak memiliki sarana dan prasarana pendidikan, bahkan tidak sedikit kita saksikan adanya sekolah yang ambruk dan tidak dapat lagi melangsungkan kegiatan belajar mengajar.

Kendala-kendala dalam Inovasi Pendidikan

Ada beberapa hal mengapa inovasi sering tidak dapat diterima oleh para pelaksana inovasi di lapangan atau di sekolah sebagai berikut:

1. Adanya kebijakan yang sentralistik. Sejak awal sekolah atau guru tidak dilibatkan dalam proses perencanaan, penciptaan dan bahkan pelaksanaan inovasi tersebut, sehingga ide baru atau inovasi tersebut dianggap oleh guru atau sekolah bukan miliknya, dan merupakan kepunyaan orang lain yang tidak perlu dilaksanakan, karena tidak sesuai dengan keinginan atau kondisi sekolah mereka.
2. Guru telah merasa nyaman dengan keadaan yang sudah ada, sehingga lebih cenderung ingin mempertahankan sistem atau metode yang mereka lakukan saat sekarang, karena sistem atau metode tersebut sudah mereka laksanakan bertahun-tahun dan tidak ingin diubah. Di samping itu, sistem yang mereka miliki dianggap oleh mereka memberikan kepuasan serta sudah baik sesuai dengan pikiran mereka.
3. Model Top Down Innovation, yaitu inovasi yang dibuat oleh pemerintah pusat (khususnya Depdiknas) belum sepenuhnya melihat kebutuhan dan kondisi yang dialami oleh guru dan siswa. Hal ini juga diungkapkan oleh Munro (1987: 36) yang mengatakan bahwa "mismatch between teacher's intention and practice is important barrier to the success of the innovatory program".
4. Ada kesan bahwa inovasi yang diperkenalkan dan dilaksanakan yang berasal dari pusat merupakan sebuah proyek di mana segala sesuatunya ditentukan oleh pencipta inovasi dari pusat. Inovasi ini bisa terhenti kalau proyek itu selesai atau kalau finasial dan keuangannya sudah tidak ada lagi. Dengan demikian pihak sekolah atau guru hanya terpaksa melakukan perubahan sesuai dengan kehendak para inovator di pusat dan tidak punya wewenang untuk merubahnya.
5. Kekuatan dan kekuasaan pusat yang sangat besar sehingga dapat menekan sekolah atau guru melaksanakan keinginan pusat, yang belum tentu sesuai dengan kemauan mereka.

Upaya Mengatasi Masalah dan Kendala Inovasi Pendidikan

Untuk mengatasi masalah-masalah dan kendala dalam pelaksanaan inovasi pendidikan di Indonesia antara lain adalah sebagai berikut:

1. Guru

Guru merupakan pemeran utama dalam proses belajar mengajar di sekolah, peran guru di sekolah memiliki peran ganda, di pundak merekalah terletak mutu pendidikan. Guru adalah seorang manajer yang mengelola proses pembelajaran, merencanakan, mendesain pembelajaran, melaksanakan aktivitas pembelajaran bersama siswa, dan melakukan pengontrolan atas kecakapan dan prestasi siswa (Yamin, 2007: 73). Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan sosok yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar di sekolah. Kepiawaian dan kewibawaan guru sangat menentukan kelangsungan proses belajar mengajar di kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru adalah sebagai fasilitator (guide in the side) yang harus pandai membawa siswanya kepada tujuan yang hendak dicapai, dengan cara yang lebih baik.

Kewibawaan guru sebetulnya terletak pada diri guru itu sendiri. Ada beberapa hal yang dapat membentuk kewibawaan guru antara lain adalah penguasaan materi yang diajarkan, metode mengajar yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, hubungan antar individu, baik dengan siswa maupun antar sesama guru dan unsur lain yang terlibat dalam proses pendidikan seperti administrator—misalnya, kepala sekolah dan tata usaha serta masyarakat sekitarnya, dan pengalaman dan keterampilan guru itu sendiri.

Dengan demikian, dalam pembaharuan pendidikan, keterlibatan guru mulai dari perencanaan inovasi pendidikan sampai dengan pelaksanaan dan evaluasinya memainkan peran yang sangat besar bagi keberhasilan suatu inovasi pendidikan.

Dalam suatu inovasi pendidikan, gurulah yang utama dan pertama terlibat, karena guru mempunyai peran yang luas sebagai pendidik, sebagai orang tua, dan sekaligus sebagai teman. Oleh karena itu, seorang guru seharusnya tidak saja hanya memiliki hard skills tetapi juga soft skills.

Dengan menerapkan kegiatan pembelajaran yang berfokus kepada peserta didik, berikut ini diuraikan beberapa tambahan peranan yang baru bagi guru dan merupakan inovasi dari peran guru, yaitu:

• Menerapkan kegiatan pembelajaran yang berfokus kepada peserta didik adalah:

1. memahami dan mengetahui secara jelas ke arah mana peserta didik secara kognitif dikehendaki akan berkembang. Dalam hal ini, guru hendaknya mengetahui tingkat kemampuan berpikir yang dituntut untuk dikembangkan oleh peserta didik selama kegiatan pembelajaran berlangsung,
2. menggunakan analogi dan metaphor, sehingga peserta didik dapat lebih memahami penjelasan guru.
3. mengembangkan mekanisme yang tidak berbahaya dan juga tidak menakutkan untuk terjadinya dialog tidak langsung antara guru dan peserta didik.

• Mengembangkan pertanyaan yang bersifat “memaksa” peserta didik untuk menguraikan apa yang sebenarnya sedang mereka pelajari. Hendaknya guru benar-benar menghindari pertanyaan, seperti “Apakah ada pertanyaan?” Guru hendaknya juga memberikan berbagai kesempatan kepada peserta didik untuk membuat kesimpulan/dan atau menjelaskan materi yang baru saja selesai dibahas. Peserta didik juga haruslah dikondisikan untuk mengajukan pertanyaan yang bersifat penetrasi.

• Menggunakan alat/sarana visual untuk membantu peserta didik agar dapat “melihat” bagaimana informasi dapat dihubungkan dan mengajarkan kepada peserta didik cara-cara penggunaan sarana/alat visual.

• Mendorong pembentukan kelompok-kelompok belajar dan memfungsikannya. Kelompok belajar dapat dibentuk dalam berbagai bentuk tergantung pada besarnya kelas, mata pelajaran, dan pendapat/pemikiran guru.

2. Peserta Didik

Peserta didik atau siswa adalah obyek utama dalam proses belajar mengajar di sekolah, sehingga memegang peranan yang sangat dominan. Mereka adalah suatu komponen masukan dalam sistem pendidikan, yang selanjutnya diproses dalam proses pendidikan, sehingga menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Dalam proses belajar mengajar, siswa dapat menentukan keberhasilan belajar melalui penggunaan intelegensia, daya motorik, pengalaman, kemauan dan komitmen yang timbul dalam diri mereka tanpa ada paksaan. Oleh karena itu, penting untuk melibatkan peserta didik atau siswa dalam proses inovasi pendidikan, walaupun hanya dengan mengenalkan kepada mereka tujuan dari pada perubahan itu mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan, sehingga apa yang mereka lakukan merupakan tanggung jawab bersama harus dilaksanakan dengan konsekuen.

Peran siswa dalam inovasi pendidikan tidak kalah pentingnya dengan peran unsur-unsur lainnya, karena siswa bisa sebagai penerima pelajaran, pemberi materi pelajaran pada sesama temannya, petunjuk, dan bahkan sebagai guru. Oleh karena itu, dalam memperkenalkan inovasi pendidikan sampai dengan penerapannya, siswa perlu diajak atau dilibatkan sehingga mereka tidak saja menerima dan melaksanakan inovasi tersebut, tetapi juga mengurangi resistensi atau penolakan terhadap inovasi yang diterapkan.

Berikut ini adalah karakteristik model pembelajaran yang berfokus pada peserta didik, yaitu sebagai berikut:

1. guru lebih berperan sebagai fasilitator dalam kegiatan pembelajaran ketimbang sebagai penyaji pengetahuan,
2. pengelolaan kelas yang lebih kondusif terhadap kegiatan dan interaksi peserta didik yang mengarah pada pengalaman belajar yang produktif,
3. peserta didik aktif dalam kegiatan yang berkaitan dengan pembelajaran ketimbang hanya duduk manis dan pasif selama kegiatan belajar berlangsung di dalam kelas.
4. membutuhkan investasi waktu dan energi untuk menerapkan model pembelajaran yang berfokus pada peserta didik.

Pelaksanaan inovasi tentang peserta didik atau siswa tidak terlepas dari inovasi tentang guru itu sendiri. Terdapat beberapa persyaratan yang harus diperhatikan agar pelaksanaan pembelajaran yang berfokus kepada peserta didik berhasil, yaitu:

1. mengubah paradigma guru menjadi fasilitator pembelajaran;
2. komitmen guru dalam menyediakan waktu dan tenaga untuk membelajarkan peserta didik tentang berbagai materi pengetahuan;
3. kesediaan guru untuk mencoba menerapkan pendekatan baru dalam mengelola kelas, dan melihat secara kritis usaha penerapan pembelajaran yang berfokus pada peserta didik;
4. inisiatif guru untuk bergabung dengan kelompok masyarakat pengembang strategi pembelajaran yang berfokus pada peserta didik.

3. Kurikulum

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaan kegiatan belajar mengajar. Isi kurikulum merupakan susunan dan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan, dalam rangka upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional (Hamalik, 1999: 18).

Kurikulum pendidikan, lebih sempit lagi kurikulum sekolah meliputi program pengajaran dan perangkatnya merupakan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Oleh karena itu, kurikulum sekolah dianggap sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam proses belajar mengajar di sekolah, sehingga dalam pelaksanaan inovasi pendidikan, kurikulum memegang peranan yang sama dengan unsur-unsur lain dalam pendidikan. Tanpa adanya kurikulum dan tanpa mengikuti program-program yang ada di dalamnya, maka inovasi pendidikan tidak akan berjalan sesuai dengan tujuan inovasi itu sendiri. Oleh karena itu, dalam pembaharuan pendidikan, perubahan itu hendaknya sesuai dengan perubahan kurikulum atau perubahan kurikulum diikuti dengan pembaharuan pendidikan dan tidak mustahil perubahan dari kedua-duanya akan berjalan searah.

Kurikulum dikembangkan sedemikian rupa dalam bentuk yang lebih kenyal atau lunak dan fleksibel sesuai dengan kondisi lingkungan dan kondisi siswa, sehingga memberikan peluang untuk terjadinya proses pembelajaran maju berkelanjutan, baik dalam dimensi waktu maupun ruang dan materi. Dalam situasi seperti ini, guru bertindak sebagai fasilitator pembelajaran (guide in the side) sesuai dengan peran-peran sebagaimana dikemukakan di atas.

4. Fasilitas

Fasilitas, termasuk sarana dan prasarana pendidikan, tidak bisa diabaikan dalam dalam proses pendidikan, khususnya dalam proses belajar mengajar. Dalam pembaharuan pendidikan, tentu saja fasilitas merupakan hal yang ikut mempengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan. Tanpa adanya fasilitas, maka pelaksanaan inovasi pendidikan akan bisa dipastikan tidak akan berjalan dengan baik. Fasilitas, terutama fasilitas belajar mengajar merupakan hal yang esensial dalam mengadakan perubahan dan pembaharuan pendidikan. Oleh karena itu, dalam menerapkan suatu inovasi pendidikan, fasilitas perlu diperhatikan. Misalnya ketersediaan gedung sekolah, bangku, meja, perpustakaan, dan sebagainya.

5. Lingkup Sosial Masyarakat

Dalam menerapkan inovasi pendidikan, ada hal yang tidak secara langsung terlibat dalam perubahan tersebut tapi bisa membawa dampak, baik positif maupun negatif, dalam pelaksanaan inovasi pendidikan. Masyarakat secara tidak langsung atau tidak langsung, sengaja maupun tidak, terlibat dalam pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya mengubah masyarakat menjadi lebih baik, terutama masyarakat di mana peserta didik itu berasal. Tanpa melibatkan masyarakat sekitarnya, inovasi pendidikan tentu akan terganggu, bahkan bisa merusak apabila mereka tidak diberitahu atau dilibatkan. Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pendidikan sebaliknya akan membantu inovator dan pelaksana inovasi dalam melaksanakan inovasi pendidikan.

6. Teknologi dan Informasi Komunikasi dalam Media Pembelajaran

Pendidikan di era informasi ini merupakan pendidikan yang berbasis teknologi informasi dan telekomunikasi. Hal ini dapat dilihat dari semakin maraknya penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran. Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik (dosen, guru, instruktur, dan trainer) dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna. Hal ini dapat ditempuh dengan memanfaatkan teknologi.

Perkembangan teknologi seperti kita saksikan dewasa ini, seperti portofolio elektronik, game dan simulasi komputer, buku digital, wireless dan mobile computing merupakan tantangan dan sekaligus peluang bagi organisasi pendidikan. Pendidikan dengan meningkatkan pendayagunaan SDM dan teknologi informasi dan telekomunikasi diyakini akan dapat meningkatkan keunggulan proses belajar mengajar, sehingga pada gilirannya nanti akan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, sehingga mampu bersaing di kancah global.

Simpulan

Inovasi merupakan perubahan yang direncanakan oleh organisasi dengan kegiatan yang berorientasi pada pengembangan dan penerapan gagasan-gagasan baru agar menjadi kenyataan yang bermanfaat dan menguntungkan. Proses inovasi dapat dianalogikan sebagai proses pemecahan masalah yang di dalamnya terkandung unsur kreativitas. Dalam hal inovasi pendidikan sebagai usaha perubahan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus melibatkan semua unsur yang terkait di dalamnya, seperti inovator, penyelenggara inovasi seperti kepala sekolah, guru dan siswa.

Keberhasilan inovasi pendidikan tidak saja ditentukan oleh satu faktor tertentu saja, tetapi juga oleh masyarakat serta kelengkapan fasilitas. Inovasi pendidikan yang berupa top-down model tidak selamanya berhasil dengan baik. Hal ini disebabkan oleh banyak hal, antara lain adalah penolakan para pelaksana seperti guru yang tidak dilibatkan secara penuh baik dalam perencananaan maupun pelaksanaannya. Sementara itu inovasi yang lebih berupa bottom-up model dianggap sebagai suatu inovasi yang langgeng dan tidak mudah berhenti, karena para pelaksana dan pencipta sama-sama terlibat mulai dari perencanaan sampai pada pelaksanaan. Oleh karena itu, mereka masing-masing bertanggung jawab terhadap keberhasilan suatu inovasi yang mereka ciptakan.

Tantangan di era globalisasi dan informasi perlu dimanfaatkan sebagai peluang untuk meningkatkan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Harus diakui bahwa keunggulan proses belajar mengajar dapat dikembangkan melalui proses inovasi pendidikan dengan paradigma baru, yaitu pendidikan dengan mendayagunakan SDM, teknologi informasi dan komunikasi. Untuk itu diperlukan suatu penyebarluasan (difusi) agar semua pihak, baik insan pendidikan maupun masyarakat umum dapat terlibat secara langsung melakukan gerakan pembaruan (inovasi) pendidikan.


Daftar Pustaka

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan R.I. (1990). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Gibson, J.L, Ivanchevich, J.M, dan Donnelly, J.H. (1997). Organizations. Djakarsih. (Pent.). Jakarta: Erlangga.
Hamalik, O. (1999). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Hasbullah. (2005). Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Hendra, A. (2009). “Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)”, tersedia di http://nyongandikahendra.blogspot.com/2009/04/cara-belajar-siswa-aktif- cbsa.html
Idris, Z. (1991). Dasar-Dasar Kependidikan. Bandung: Angkasa.
Kennedy, C. (1991). Innovation for Change: Teacher Development and Innovation. ELT Journal 41/3 .
Munro, R.G. (1987). Innovation; Success or Failure? Bristol: J.W. Arrowss Smith Cambride English Dictionary.
Nicholls, R. (1993). Managing Educational Innovation. London: George, Allen and Unwin.
Robbin, S. (1998). Organizational Behavior. New Jersey: Prentice Hall International, Inc.
Suryosubroto, B. (1990). Beberapa Aspek Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Timpe, A.D. (2002). Kreativitas. Sofyan Cikmat (Pent.) Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
White, R.V. (1991). Managing Innovation. ELT. Journal 41/3. Oxford: Blackwell.
Wibowo. (2006). Manajemen Perubahan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Yamin, M. (2007). Sertifikasi Profesi Keguruan di Indonesia. Jakarta: Gaung Persada Press.


Nurdelima Waruwu, dosen Jurusan Kependidikan Islam FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. E-mail: delima_uin@yahoo.co.id.

Spread The Love, Share Our Article

Related Posts

No Response to "PENTINGNYA INOVASI DALAM PENDIDIKAN"

Poskan Komentar